Konklaf Dimulai di Kapel Sistina, Siapa Pengganti Paus Fransiskus?

by christine natalia
0 comment
59 / 100

Suaraunggul.com – Vatikan kini memasuki masa transisi setelah Paus Fransiskus wafat pada usia 88 tahun, Senin (21/4). Selama lebih dari satu dekade, pria kelahiran Argentina ini telah memimpin umat Katolik dunia dengan pendekatan yang hangat, penuh empati, dan inklusif. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka mendalam, namun juga membuka lembaran baru dalam sejarah Gereja Katolik. Kini, seluruh mata tertuju pada Vatikan, tempat dimulainya proses konklaf untuk memilih pemimpin baru Gereja Katolik.

Sebagai Paus pertama dari luar Eropa dalam lebih dari 100 tahun, Fransiskus menjadi simbol perubahan dan harapan bagi jutaan umat. Kepemimpinannya yang penuh semangat reformasi dan keberpihakan pada kaum marginal telah menandai era penting dalam Gereja Katolik modern.

Kini, proses pemilihan pemimpin baru pun dimulai. Mekanisme ini dikenal dengan nama konklaf, yakni sidang tertutup para kardinal Gereja Katolik yang diselenggarakan di Vatikan. Dalam proses ini, hanya kardinal berusia di bawah 80 tahun yang memiliki hak suara. Dari 252 kardinal yang ada saat ini, sebanyak 135 di antaranya berhak menentukan arah masa depan kepemimpinan Gereja.

Meskipun secara teori siapa pun pria Katolik Roma yang telah dibaptis bisa dipilih sebagai Paus, tradisi selama ini menunjukkan bahwa para kardinal cenderung memilih dari kalangan mereka sendiri. Pada 2013 lalu, pemilihan Paus Fransiskus menjadi titik balik karena beliau berasal dari Amerika Selatan, wilayah yang mewakili sekitar 28 persen populasi Katolik dunia.

Proses konklaf berlangsung di Kapel Sistina dengan pengamanan ketat. Para kardinal pemilih akan menjalani isolasi penuh dari dunia luar, tanpa akses ke telepon, internet, maupun media. Dalam suasana hening, mereka berdiskusi, berdoa, dan melakukan pemungutan suara secara rahasia. Untuk memilih Paus baru, dibutuhkan mayoritas dua pertiga plus satu dari jumlah total suara.

Apabila belum tercapai kesepakatan, para kardinal akan terus melanjutkan pemungutan suara hingga muncul hasil. Tanda yang ditunggu seluruh dunia pun muncul dari cerobong Kapel Sistina: asap hitam berarti belum ada keputusan, sedangkan asap putih menjadi pertanda bahwa seorang Paus baru telah terpilih.

Setelah terpilih, Paus baru akan diperkenalkan dari balkon Basilika Santo Petrus. Seorang kardinal senior akan menyampaikan pengumuman dengan kalimat Latin, “Habemus Papam,” yang berarti “Kita memiliki Paus.” Paus terpilih kemudian menyampaikan salam perdananya kepada umat dari seluruh penjuru dunia.

Kendati masa berkabung masih berlangsung, optimisme tumbuh di tengah umat Katolik. Jejak warisan Paus Fransiskus telah membuka jalan bagi keterlibatan yang lebih luas dari berbagai belahan dunia. Banyak yang berharap bahwa pemimpin berikutnya akan melanjutkan semangat inklusivitas, pembaruan, dan kepedulian sosial sebagaimana yang diwariskan Fransiskus.

Konklaf bukan sekadar proses politik internal Gereja, tetapi juga peristiwa spiritual yang menyatukan jutaan umat dalam doa dan harapan. Dunia kini menanti dengan penuh harap, siap menyambut sosok baru yang akan memimpin Gereja Katolik memasuki babak berikutnya.

You may also like

Leave a Comment

Berita Terkini

SuaraUnggul by Suara Unggul team