Suaraunggul.com – Netflix bersiap mengubah lanskap hiburan daring yang selama ini menjadi incaran utama masyarakat sebagai platform OTT film dan serial terbaik. Pada gelaran Upfront untuk para pengiklan pekan lalu, Presiden Divisi Periklanan Netflix Amy Reinhard mengonfirmasi rencana peluncuran iklan interaktif berbasis kecerdasan buatan pada 2026. Fitur anyar itu akan muncul di tengah tayangan atau saat pengguna menekan tombol pause, lalu menampilkan pesan komersial yang menyesuaikan minat penonton secara real‑time.
Langkah tersebut menandai putaran baru strategi bisnis Netflix. Sejak beroperasi sebagai layanan pengiriman DVD pada 1997, perusahaan ini identik dengan pengalaman menonton bebas iklan. Transformasi menjadi platform streaming global pun tetap memegang prinsip yang sama selama lebih dari satu dekade. Kini, demi memperbesar pundi pendapatan non‑langganan, raksasa Silicon Valley itu memilih merangkul model ad‑supported yang sebelumnya dihindari.
Reinhard menyebut fondasi bisnis periklanan Netflix “sudah kokoh” setelah paket bersponsor diluncurkan November 2022. Menurutnya, teknologi generative AI memungkinkan pemasang iklan menargetkan audiens secara presisi tanpa memotong alur cerita terlalu lama. Ia menegaskan inovasi akan bergulir cepat, sejalan dengan permintaan pasar yang menuntut personalisasi lebih dalam.
Meski demikian, keputusan ini memicu dilema bagi pelanggan setia. Kenaikan harga berulang pada paket bebas iklan mendorong sebagian penonton mempertimbangkan migrasi ke tier standar yang lebih murah namun sarat jeda komersial. Di satu sisi, iklan kontekstual dapat membantu pengguna menemukan merek relevan; di sisi lain, muncul risiko gangguan imersi, terutama ketika konten penuh tensi seperti Squid Game terpotong promosi burger atau produk kecantikan.
Pengamat industri menilai Netflix tak bergerak sendirian. Disney+, Max, hingga Prime Video lebih dulu memperkenalkan model campuran langganan‑iklan guna menekan ongkos produksi konten orisinal yang kian mahal. Perbedaannya, Netflix berencana menerapkan kecerdasan buatan generatif untuk menyusun kreativitas iklan, bukan sekadar memilih slot tayang. Teknologi tersebut diperkirakan mengolah data kebiasaan menonton, preferensi genre, bahkan bahasa tubuh pemirsa melalui sensor perangkat, lalu menampilkan pesan yang terasa “ditulis khusus” untuk individu bersangkutan.
Dari perspektif pemasang iklan, pendekatan ini menjanjikan efisiensi bujet karena menekan waste reach. Namun, pegiat privasi menyoroti potensi pelacakan perilaku pengguna yang lebih dalam. Netflix belum mempublikasikan detail mekanisme proteksi data atau opsi opt‑out bagi pelanggan yang enggan terlibat dalam penayangan personal.
Pertaruhan Netflix bertumpu pada dua faktor: toleransi penonton terhadap jeda iklan dan kemampuan algoritma menjaga relevansi tanpa mengusik kenyamanan. Jika kedua unsur itu seimbang, perusahaan dapat memetik pendapatan baru sekaligus memelihara basis pelanggan. Sebaliknya, penempatan iklan yang terasa memaksa bisa memicu perpindahan audiens ke layanan pesaing atau platform gratis yang kualitas kontennya kian kompetitif.
Masih ada waktu hampir satu setengah tahun sebelum implementasi penuh. Selama periode tersebut, Netflix diperkirakan menguji berbagai format, merapikan kebijakan privasi, serta menyosialisasikan keuntungan paket iklan kepada publik. Sementara itu, industri streaming global mengamati dengan cermat—karena hasil akhirnya berpotensi menjadi cetak biru baru bagi monetisasi konten digital. Pada 2026, jawaban apakah strategi ini memperkuat dominasi Netflix atau justru menimbulkan eksodus massal akan terungkap bersama tayangan perdana iklan berbasis AI.