Suaraunggul.com – Film Wall to Wall resmi tayang di Netflix pada 18 Juli 2025 dan langsung menyita perhatian publik. Dibintangi Kang Ha Neul, film ini tak hanya menyuguhkan cerita yang menegangkan, tetapi juga mengangkat isu sosial yang kian relevan di Korea Selatan: perjuangan keras warga untuk memiliki tempat tinggal layak di tengah tekanan ekonomi yang makin menghimpit.
Dengan durasi 118 menit, Wall to Wall menyajikan alur yang cepat dan intens. Ketegangan dibangun melalui konflik kebisingan di sebuah apartemen yang kemudian berkembang menjadi drama psikologis penuh intrik. Penonton dibawa menyelami keresahan karakter utama, Woo Sung, yang terus diganggu oleh suara misterius dari unit di atasnya.
Seiring berjalannya cerita, terungkap bahwa kebisingan tersebut merupakan bagian dari skenario yang dirancang oleh Jin Ho, seorang mantan jurnalis yang ingin membalas dendam. Jin Ho menyewa pasangan penghuni unit 1301 untuk menciptakan suara-suara mengganggu di kediaman Woo Sung. Ia bahkan meminta mereka menempelkan catatan agar Woo Sung terlihat sebagai pelaku, bukan korban.
Motif di balik aksi Jin Ho terungkap seiring mendekati klimaks. Ia kehilangan pekerjaan setelah laporannya mengenai korupsi dihalangi oleh seorang jaksa bernama Eun Hwa. Demi mengungkap praktik korupsi tersebut, Jin Ho merancang sebuah konspirasi yang melibatkan kebisingan apartemen sebagai alat untuk menggiring perhatian publik. Ia menemukan fakta bahwa Eun Hwa membeli sejumlah unit apartemen yang berpotensi naik harga setelah proyek jalur kereta cepat GTX diumumkan, lalu menyewakannya kembali dengan tarif tinggi.
Konflik memuncak saat Woo Sung, yang hidupnya sudah berada di ambang kehancuran, dimanfaatkan sebagai pion terakhir oleh Jin Ho. Kematian tragis yang terjadi bukan bagian dari rencana awal, namun menjadi titik balik bagi narasi. Buku besar yang berisi bukti kepemilikan unit oleh Eun Hwa akhirnya terbakar, membuat jaksa menutup kasus kebakaran secara sepihak.
Dalam penutup film, Woo Sung kembali ke apartemennya dan tertawa saat suara ‘dug dug dug’ kembali terdengar. Padahal, masalah eksternal telah usai. Tawa tersebut menjadi simbol bahwa sumber gangguan kini berpindah ke dalam pikirannya sendiri, menggambarkan dampak psikologis mendalam akibat tekanan hidup dan permainan kekuasaan.
Wall to Wall bukan sekadar film thriller biasa. Lewat narasi yang kuat dan visual yang mencekam, karya ini menyoroti dampak sosial dari kesenjangan ekonomi, spekulasi properti, serta tekanan psikologis akibat ketidakpastian hidup. Film ini berhasil menggabungkan ketegangan cerita dengan kritik sosial yang tajam, menjadikannya relevan dan menggugah.
Di tengah maraknya ketimpangan akses terhadap perumahan, Wall to Wall hadir sebagai cerminan nyata masyarakat urban yang terus berjuang demi ruang untuk hidup layak—bahkan jika harus bertaruh dengan kewarasan dan nyawa sendiri.